Selasa, 30 Agustus 2016

Sejarah pendidikan di Indonesia

Sejarah pendidikan di Indonesia telah berlangsung sejak lama. I Tsing, pendeta Budha yang singgah di kerajaan Sriwijaya pada 687 masehi, menjelaskan bahwa Palembang di masa tersebut merupakan pusat agama Budha dimana pemikir dari berbagai negara berkumpul disana. Hanya saja, pendidikan saat itu belum diatur dan berfokus pada ajaran Budha.

Peranan pemerintah dalam mengatur pelaksanaan pendidikan terjadi sejak 1950 melalui draf undang-undang wajib belajar pendidikan dasar 6 tahun. Prioritas dalam pendidikan semakin ditekankan pada era pemerintahan presiden Soeharto yang diwujudkan dalam pendirian hampir 40.000 sekolah dasar baru pada akhir 1980an sehingga memungkinkan tercapainya target wajib belajar 6 tahun.

Upaya meningkatkan mutu dan partisipasi pendidikan terus berlanjut hingga kini. Mempelajari sejarah perkembangan pendidikan mestinya membuat kita dapat memahami apa saja yang telah dicapai lewat pendidikan dan mengevaluasi perbaikan yang dibutuhkan untuk menciptakan mutu dan partisipasi pendidikan yang lebih baik.

Sejarah Pendidikan pada Zaman Pendudukan Belanda
Memasuki abad ke 16, bangsa Portugis datang ke Indonesia dengan tujuan perdagangan dan berusaha menyebarkan agama katolik. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendatang Portugis ini mendirikan sekolah yang bertujuan memberikan pendidikan baca, tulis, dan hitung sekaligus mempermudah penyebaran agama katolik. Masuknya masa pendudukan Belanda membuat kegiatan belajar mengajar di sekolah milik pendatang Portugis menjadi terhenti.

Belanda juga membawa misi serupa Portugis yaitu menyebarkan agama Protestan kepada masyarakat setempat. Untuk mewujudkan misi ini, Belanda melanjutkan apa yang dirintis oleh bangsa Portugis dengan mengaktifkan kembali beberapa sekolah berbasis keagamaan dan membangun sekolah baru di beberapa wilayah. Ambon menjadi tempat yang pertama dipilih oleh Belanda dan setiap tahunnya, beberapa penduduk Ambon dikirim ke Belanda untuk dididik menjadi guru. Memasuki tahun 1627, telah terdapat 16 sekolah yang memberikan pendidikan kepada sekitar 1300 siswa.

Setelah mengembangkan pendidikan di Ambon, Belanda memperluas pendidikan di pulau Jawa dengan mendirikan sekolah di Jakarta pada tahun 1617. Berbeda dengan Ambon, tidak diketahui apakah ada calon guru lulusan dari sekolah ini yang dikirim ke Jakarta. Lulusan dari sekolah tersebut dijanjikan bekerja di berbagai kantor administratif milik Belanda.

Memasuki abad ke 19, saat Van den Bosch menjabat Gubernur Jenderal, Belanda menerapkan sistem tanam paksa yang membutuhkan banyak tenaga ahli. Keadaan ini membuat Belanda mendirikan 20 sekolah untuk penduduk Indonesia di setiap ibukota karesidenan dimana pelajar hanya boleh berasal dari kalangan bangsawan. Ketika era tanam paksa berakhir dan memasuki masa politik etis, beberapa sekolah Belanda mulai menerima pelajar dari berbagai kalangan yang kemudian berkembang menjadi bernama Sekolah Rakjat.

Pada akhir era abad ke 19 dan awal abad ke 20, Belanda memperkenalkan sistem pendidikan formal bagi masyarakat Indonesia dengan struktur sebagai berikut.

ELS (Europeesche Lagere School) – Sekolah dasar bagi orang eropa.
HIS (Hollandsch-Inlandsche School) – Sekolah dasar bagi pribumi.
MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) – Sekolah menengah.
AMS (Algeme(e)ne Middelbare School) – Sekolah atas.
HBS (Hogere Burger School) – Pra-Universitas.
Memasuki abad ke 20, Belanda memperdalam pendidikan di Indonesia dengan mendirikan sejumlah perguruan tinggi bagi penduduk Indonesia di pulau Jawa. Beberapa perguruan tinggi tersebut adalah:

School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) – Sekolah kedokteran di Batavia.
Nederland-Indische Artsen School (NIAS) – Sekolah kedokteran di Surabaya.
Rechts Hoge School – Sekolah hukum di Batavia.
De Technische Hoges School (THS) – Sekolah teknik di Bandung.

Pendidikan Indonesia pada Zaman Pendudukan Jepang
Memasuki masa pendudukan Jepang, sistem pendidikan Belanda dihentikan dan digantikan oleh sistem pendidikan dari Jepang. Jepang menyediakan sekolah rakyat (Kokumin Gakko) sebagai pendidikan dasar, sekolah menengah sebagai pendidikan menengah, dan sekolah kejuruan bagi guru. Berbeda dengan sistem pendidikan Belanda yang dibatasi bagi kalangan tertentu, pendidikan yang diterapkan Jepang tersedia bagi semua kalangan.

Jepang melarang sekolah mengadakan pendidikan dalam bahasa Belanda. Mereka menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama diikuti bahasa Jepang sebagai bahasa kedua. Selain itu, Jepang juga banyak menanamkan ideologi mental kebangsaan dengan memberlakukan tradisi seperti menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, senam bersama menggunakan lagu Jepang (taiso), mengibarkan bendera, dan penghormatan terhadap kaisar.

Sejarah Pendidikan Indonesia 1945 – 1965

Setelah Indonesia merdeka, Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) mengusulkan pembaruan pendidikan Indonesia. Ki Hajar Dewantara, yang saat itu menjabat Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Indonesia, membentuk Panitia Penyelidik Pengajaran untuk menyediakan struktur, bahan pengajaran, dan rencana belajar di Indonesia. Kurikulum ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran bernegara dan bermasyarakat, meningkatkan pendidikan jasmani, dan pendidikan watak. Dari upaya tersebut, disusunlah kurikulum SR 1947 yang terdiri dari 15 mata pelajaran. 

Memasuki era demokrasi liberal pada 1950, pelaksanaan pendidikan Indonesia diatur dalam UU no. 4 Tahun 1950 dan diperbarui menjadi UU no. 12 tahun 1954. Pendidikan dan pengajaran bertujuan membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Seiring dengan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959, Indonesia kembali menggunakan UUD 1945 sebagai dasar negara. Meskipun demikian, perubahan ini tidak banyak mengubah sistem pendidikan yang telah berlangsung di Indonesia.

Pada periode ini, pendidikan di Indonesia telah tersusun atas beberapa jenjang yang merupakan pengembangan dari jenjang yang terdapat pada jaman pendudukan Belanda. Jenjang pendidikan di Indonesia di zaman tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

Taman Kanak-kanak (TK).
TK dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian A (anak 4 tahun) dan bagian B (anak 5 tahun). TK ditujukan untuk membantu perkembangan anak, serta interaksi anak dengan alam dan lingkungan masyarakat sekitar.
Sekolah Dasar (SD).
SD berfungsi sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan dasar pengetahuan yang dibutuhkan untuk anak. SD memiliki peran penting sebagai dasar pembangunan kehidupan bangsa sehingga diharapkan menjadi lembaga pendidikan yang lengkap, fungsional, dan ilmiah.
Sekolah Menengah Pertama (SMP).
SMP merupakan lembaga pendidikan setelah SD dimana siswa diharapkan dapat memperdalam keilmuan dasar dan memanfaatkannya sebagai keterampilan untuk hidup. Setiap pelajar akan mengambil satu mata pelajaran keahlian spesifik yang sesuai dengan minat dan bakatnya.
Sekolah Menengah Atas (SMA).
SMA merupakan lembaga yang mengajarkan keahlian atau keterampilan spesifik. Oleh karena itu, SMA sering disebut juga sekolah kejuruan. Masa pendidikan berlangsung 4 tahun dimana lulusan SMA akan mendapat gelar sarjana muda.
Perguruan Tinggi.
Perguruan tinggi di Indonesia terdiri dari Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, dan Akademi. Universitas minimum terdiri dari 4 fakultas yang meliputi bidang keagamaan, ilmu budaya, ilmu sosial, ilmu eksakta, dan teknik. Institut bertujuan melaksanakan pendidikan dan melakukan penelitian. Sekolah tinggi difokuskan pada pendidikan untuk satu cabang ilmu pengetahuan. Sedangkan akademi menyediakan pendidikan untuk keahlian khusus.
Pendidikan Guru.
Pendidikan guru di Indonesia mengalami dinamika sepanjang periode ini. Awalnya, terdapat Pendidikan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) yang tergabung dalam Universitas FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Ketidakpuasan atas FKIP membuat departement PP & K mendirikan Institut Pendidikan Guru (IPK) yang menimbulkan konflik antar kedua belah pihak. Konflik ini ditengahi oleh Presiden melalui Kepres No. 3/1963 dimana FKIP dan IPG dilebur menjadi IKIP.
Pendidikan Indonesia Era 1965 – 1995

Memasuki tahun 1965, pendidikan di Indonesia memiliki misi untuk mengajarkan dan menerapkan nilai-nilai Pancasila. Untuk melaksanakan misi tersebut, departemen pendidikan dan kebudayaan menyusun kurikulum yang mencakup prinsip dasar Pancasila.

Implementasi dari misi tersebut diawali dengan perubahan kurikulum di setiap jenjang pendidikan. Melalui kurikulum SD 1968, pendidikan dasar diharapkan dapat menyampaikan materi untuk mempertinggi mental budi pekerti, memperkuat keyakinan agama, serta mempertinggi kecerdasan dan keterampilan. Sementara itu, kurikulum SMP ditambah dengan pembentukan kelompok pembinaan jiwa pancasila, kelompok pembinaan pengetahuan dasar, dan kelompok pembinaan kecakapan khusus. Kurikulum SMA juga disempurnakan dengan tujuan membentuk manusia pancasila sejati, mempersiapkan untuk masuk ke perguruan tinggi, serta mengajarkan keahlian sesuai minat dan bakat.

Peningkatan pendapatan negara dari penjualan minyak membuat pemerintah mampu mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk kebutuhan pendidikan. Pemerintah kemudian mendirikan SD Inpres (Instruksi Presiden), merekrut lebih banyak guru, mencetak buku pelajaran, dan mendirikan pusat pelatihan keterampilan.

Pada tahun 1989, melalui UU No. 2/1989, jenjang pendidikan di Indonesia diperbarui menjadi tiga jenis yaitu:

Jenjang pendidikan dasar (SD dan SLTP).
Jenjang pendidikan menengah (SMU dan SMK).
Jenjang pendidikan tinggi.
Pendidikan Indonesia berkembang pesat pada periode ini. Pada 1973, jumlah angka buta huruf di golongan usia muda Indonesia mencapai hampir 20 persen. Pendirian SD Inpres, bersama dengan sekolah lainnya, membuat tingkat buta huruf di Indonesia menurun signifikan. Pemerintah terus berusaha agar pendidikan dapat menyebar dan dirasakan oleh hampir seluruh penduduk Indonesia.

Pendidikan Indonesia Era 1995 – 2005

Memasuki tahun 1995, pendidikan Indonesia menekankan pada pengembangan SDM yang mampu menjawab tantangan masa depan. Terdapat empat prioritas utama pelaksanaan pendidikan yaitu:

Penuntasan pelaksanaan wajib belajar 9 tahun.
Peningkatan mutu semua jenis, jenjang, dan jalur pendidikan.
Menghubungkan kebutuhan antara pendidikan dan industri.
Peningkatan kemampuan penguasaan iptek.
Pemerintah juga berusaha meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan jumlah dan mutu pengajar, peningkatan mutu proses belajar mengajar, dan peningkatan kualitas lulusan. Pemerintah juga berusaha menciptakan sekolah unggul dan mengembangkan kurikulum yang menekankan perbaikan metode mengajar dan perbaikan guru.

Pada tahun 1998, suasana politik di Indonesia mengalami gejolak yang menyebabkan lahirnya era reformasi. Sistem pemerintahan berubah dari model sentralisasi menjadi desentralisasi. Penerapan otonomi daerah membuat penyelenggaraan pendidikan berubah menjadi otonomi pendidikan, terutama di jenjang pendidikan tinggi. Pada masa peralihan kekuasaan, pendidikan di Indonesia masih menerapkan kurikulum yang berlaku pada zaman orde baru. Kurikulum ini masih digunakan pada masa pemerintahan presiden Abdurrachman Wahid dengan beberapa perbaikan.

Sistem pendidikan di Indonesia mengalami perubahan pada masa kepresidenan Megawati melalui kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum ini berbasis pada 3 aspek utama yaitu aspek afektif, aspek kognitif, dan aspek psikomotorik. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memperbarui kurikulum tersebut menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang mencakup tujuan pendidikan, tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, serta silabus.

Sejarah Pendidikan Indonesia 2005 – Hingga Kini (2015)
Pemerintahan presiden SBY berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan di Indonesia. Upaya tersebut diawali penerbitan Instruksi Presiden No. 5 pada 09 Juni 2006 yang bertujuan mempercepat penyelesaian wajib belajar 9 tahun. Upaya ini membuat pemerintah melibatkan program pendidikan penyetaraan seperti paket A, B, dan C agar dapat mengadopsi kurikulum sesuai dengan standar yang berlaku.

Jenjang pendidikan di Indonesia secara umum tidak banyak berubah. Akan tetapi, terdapat lebih banyak lembaga penyedia pendidikan untuk setiap jenjang pendidikan dimana melibatkan partisipasi pendidikan non-formal. Struktur pendidikan di Indonesia secara umum dapat digambarkan sebagai berikut (data Kementerian Pendidikan tahun 2007).

Seiring dengan meningkatnya mutu dan partisipasi pendidikan dasar di Indonesia, dan berkembangnya minat terhadap pendidikan menengah, isu pendidikan di Indonesia kini beralih pada jenjang pendidikan tinggi. Pada tahun 2011, angka partisipasi kasar (GER) untuk pendidikan tinggi di Indonesia hanya mencapai 25 persen. Angka ini lebih rendah dibanding rata-rata global yang mencapai 31 persen dan kebanyakan negara anggota ASEAN. Meskipun demikian, angka ini sebenarnya meningkat signifikan dibanding sepuluh tahun yang lalu dimana angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia hanya mencapai 12 persen.

Masuknya era pemerintahan presiden Joko Widodo (Jokowi) belum menunjukkan indikasi munculnya upaya radikal dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Secara fundamental, kebijakan pendidikan masih sejalan namun dengan beberapa perbaikan dan penyesuaian. Perubahan banyak terjadi pada tataran teknis dan masyarakat masih menanti upaya pemerintah dalam mengatasi masalah dan kekurangan dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Selasa, 23 Agustus 2016

7 Merek Yang Sangat Melekat di Hati Masyarakat Indonesia

1.ODOL


sering orang beli pasta gigi dengan sebutan ODOL..walau beda merk...
sebenernya ODOL itu juga merk pasta gigi...



Walaupun merek ini sudah berpuluh-puluh tahun tidak lagi dijual di Indonesia, nama Odol telah menjadi nama generik. Odol pertama kali diproduksi di Jerman oleh Dresden chemical laboratory Lingner, yang sekarang dikenal sebagai Lingner Werke AG pada tahun 1892 sebagai cairan pencuci mulut/mouthwash. Odol moutwash pada tahun 1900 an adalah merk ternama dan yang paling luas penggunaannya di hampir seluruh daratan Eropa. Adalah Karl August Lingner yang pertama menciptakan Odol moutwash dan dia adalah orang yang giat mengkampanyekan Hidup Higienis. Dia juga dikenal sebagai orang pertama yang mengadakan International Hygiene Exhibition pada tahun 1911. Dia mendirikan musium The German Hygyene Museum di Dresden. Dari kecil kita selalu mendengar dari orang'' tua "Sikat gigi yang bersih, pake odol ya". Kalo kita berbelanja ke toko "beli odol yang pepsodent".





2. Aqua (air mineral)
Produk air mineral yang berada di bawah Lisensi danone ini memang memegang brand yang sangat cemerlang di Indonesia. hampir semua orang di Indonesia akan menyebutkan aqua ketika akan membeli air mineral. baik Ades,Machoa,Pristine, dan lain-lain, tetap dianggap sebagai Aqua oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.



3. Indomie


Bagi banyak orang Indonesia, mie Instant biasa disebut dengan Indomie. padahal kalian tahu sendiri, produk mie instant di indonesia bukan hanya Indomie. melainkan ada banyak produk lain seperti Sarimie, Mie sedap, Supermie, dan lain lain. Tapi rakyat Indonesia sudah kadung meyebut Indomie sebagai brand Mie instant walaupun produk mereka sudah kalah dengan Mie Sedap yang kini menjadi produk Mie Instant terlaris di indonesia.



4. Baygon (obat nyamuk)
Seandainya kita disuruh untuk membeli obat nyamuk oleh orang tua kita, maka pikiran kita akan langsung tertuju pada produk Baygon, walaupun ada produk lain semacam Vape, Lavenda, dan yang lainya, tapi bagi Baygon tetaplah menjadi prioritas utama untuk penyebutan produk obat nyamuk




5. Softex
Inilah mastro produk pembalut wanita yang paling laris sekaligus paling terkenal di Indonesia, maka tak heran jika banyak wanita indonesia lebih suka mneyebut Softex ketimbang pembalut. selain karna softex adalah produk pembalut paling terkenal, softex juga merupakan produk yang paling mudah didapat



6. Chiki (snack makanan ringan)
Orang tua saya sering berkata pada adik saya begini "nanti uangnya jangan buat beli chiki, tapi ditabung saja". (padahal kan perasaan chiki sekarang udah gak eksis ya). Hal ini dikarenakan produk Chiki pernah menguasai pasar Indonesia sebagai produk snack yang paling terkenal di Indonesia. dan walaupun sekarang pamornya sudah menurun, brand chiki tetap masih mengena di mata masyarakat Indonesia.



7. Sanyo (pompa air)


Sanyo, begitulah masyarakat indonesia kebanyakan menyebut suatu alat yang berfungsi untuk menyedot dan memopa air itu, memang begitu adanya. Masyarakat Indonesia sudah mengganti nama pompa air dengan Sanyo. hal ini karna Sanyo adalah merk Pompa air pertama yang beredar di Indonesia.






Rabu, 01 Desember 2010

Mencegah Banjir Dari Diri Sendiri




Kayanya tidak ada habisnya jika kita menyebut kata Banjir. Kenapa Jakarta atau tempat lainnya bisa terkena banjir yang cukup dahsyat menurut saya. Coba anda lihat sekitar jakarta yang terkena banjir, apakah disana terdapat gedung-gedung bertingkat yang tinggi, cukupkah selokan untuk menampung air, apakah sampah-sampah sudah ditaro ditempat yang benar ? Semua itu perlu kita cermati dengan teliti, jika menurut saya, faktor-faktor tersebutlah yang bisa membuat jakarta kebanjiran.


Apalagi perumahan elit seperti kelapa gading pun ikut diterjang oleh banjir. Memang si Banjir ini tidak pernah pandang bulu yah. Kesadaran masyarakat kita masih susah sekali untuk dirubahnya. Berikut ini adalah penyebab banjir menurut saya :




1. Banyak sekali dikali ciliwung atau kali-kali lainnya dan Selokan yang dipenuhi oleh sampah Rumah Tangga. Huh padahal itu semua kan bisa membuat banjir, karena aliran air bisa terhambat dan menjadi macet untuk mengalir dan disaat air banjir datang, maka kali / selokan tidak bisa menampung air yang banyak dan jadi banjir deh. Coba tidak ada sampah dan aliran airnya lancar, so banjir kayanya ga akan datang dah. Sayang sekali kesadaran masyarakat kita ga pernah mikir efek sampingnya dan pada mau menang sendiri. Padahal kalo uda banjir, mereka marah-marah dan cuman bisa ngoceh-ngoceh ga jelas, padahal itu semua kan salah anda semua juga, suruh sapa buang sampah sembarangan, padahal kan uda dibuat Tempat Pembuangan sampah tuh. Mungkin mereka ga bisa liat Tong sampah segede gitu atau jangan-jangan mereka memang ingin berenang dan membuat banjir tersebut deh.



2. Banyaknya gedung yang tinggi-tinggi sekali di jakarta ini juga bisa menyebabkan banjir. Coba dengan semakin banyaknya gedung-gedung tersebut, daerah resapan air jadi berkurang dan hmmmm itulah yang membuat banjir euuuy. Kok bisa yah para pemda memberikan ijin ??? wah di otak saya masih penuh dengan tanda tanya sekali, kenapa tidak dipikirkan lagi efek sampingnya.



3. Banyak penebangan pohon-pohon yang ada di daerah yang sering terkena banjir. Pohon itu sangat bagus untuk mencegah banjir dan membuat udara menjadi sejuk dan tidak polusi kaya sekarang gini. Kalo banyak pohon, bisa meresap air-air yang ada didalam tanah. Tapi sungguh malang sekali nasib pohon-pohon itu dibiarkan ditebang secara semaunya dan se enak udelmu saja. Saya ga ngerti kenapa ditebang sih.


Mungkin masih banyak lagi penyebab banjir yang ada dan itu semua adalah faktor dari manusianya sendiri. Wajarlah kalo terkena banjir, wong itu juga yang buat anda semua kok. Tidak usah nyalahin orang lain, tapi pikir deh, apa tingkah laku kita uda bener dan menjaga lingkungan tempat tinggal kita sendiri. Banyak orang yang ga sadar dengan tingkah laku diri sendiri yang secara perlahan-lahan telah membuat kerusakan pada alam.



Coba deh dari sekarang kita buat penghijauan lagi daerah tempat tinggal kita dengan menanam pohon kembali dan cara itu juga bisa membuat dan memperkecil polusi udara yang semakin tinggi sekali. Kemudian coba jangan pernah membuang sampah sembarangan deh, kan uda ada tempatnya. Emang kalian mau aliran sungai, kali atau selokan menjadi naik dan anda deh yang kena batunya sendiri. Kalo yang masalah pembangunan gedung-gedung tinggi yang semakin banyak, kita hanya bisa pasrah dan itu memang kemauan dari para petinggi euuuy. Sekarang kita harus bisa melakukan hal semua itu agar tidak lagi adanya banjir.

aplikasi game unik "tampar gayus" dari facebook :)

http://www.facebook.com/connect/uiserver.php?app_id=149142855132362&next=http://apps.facebook.com/tampargayus/index.php&display=page&cancel_url=http://apps.facebook.com/tampargayus/&locale=en_US&perms=publish_stream,email&return_session=1&session_version=3&fbconnect=0&canvas=1&legacy_return=1&method=permissions.request